Minggu, 16 Juni 2013

tips menghadapi anak bandel



Kalau saja guru tahu latar belakang masalah perilaku muridnya, maka ia akan merasa iba dan kasihan
Saya pribadi tidak setju dengan judul diatas karena cap atau label nakal mudah sekali diberikan guru jika ia merasa tidak sanggup mengendalikan perilaku siswanya. Siswa yang nakal kebanyakan akan menanggung cap tersebut selama tahun-tahun ia berada di sekolah yang sama. Jika seorang anak mendapat cap nakal di tahun pertama ia bersekolah maka lazimnya cap itu akan melekat terus.
Uniknya ukuran nakal tiap guru berbeda-beda. Bagi seorang guru yang mengajar di sekolah yang berbasiskan agama maka semua anak ‘jalanan’ atau yang hidupnya di jalan akan dikatakan sebagai anak nakal. Tidak heran karena di sekolah tsb segala perkataan anak dijaga dan diperhatikan. Anak tidak boleh berkata kasar dan sebagainya. Sedangkan untuk anak yang hidup di jalan, bahasa sehari-hari mereka memang kata-kata yang menurut kita ‘kasar’ dan tidak pada tempatnya.
Dengan demikian mari sebagai pendidik mulai untuk mengurangi memberi cap negatif. Karena cap negatif sangat relatif dan punya standar dan ukuran berbeda.Hal yang bisa guru lakukan adalah mendekonstruksi kembali cap anak nakal.
Menurut saya tidak ada yang namanya anak nakal, yang ada adalah;
  • anak yang kurang kasih sayang orang tua. Ia berulah negatif di kelas karena ia perlu perhatian. Bagi anak seperti ini, teriakan marah guru seperti ‘belaian’ dikupingnya karena dirumah ia bahkan jarang ada yang memperhatikan
  • anak yang terkena bully dari saudara atau teman sepermainannya. Tipe anak seperti ini akan melakukan hal yang sama pada anak lainnya karena ia adalah ‘korban’ dan berusaha untuk membalas dendam
  • anak yang kedua orang tuanya mengalami masalah perkawinan. Baginya kehidupan sudah tidak nyaman lagi. Kedua orang tua yang seharusnya melindungi sedang berkonflik hal ini yang menjadikannya tidak fokus saat di kelas dan menjadikannya biang onar di kelas.
Daftar diatas bisa bertambah lagi dengan sederet hal lain yang bisa dipandang sebagai penyebab dari ‘kenakalan seorang’ anak.
Jika di kelas anda ada anak yang berkategori nakal ini saran saya;
  • stop ucapkan atau hentikan cap nakal pada anak tersebut. Katakan “saya pikir yang orang lain katakan tentang kamu itu tidak benar, menurut saya kamu lebih baik dari yang orang bilang” dengan demikian anak tersebut merasa ada orang yang masih percaya padanya.
  • cari terus info lengkap mengenai tara belakang keluarga atau info apapun demi membuat anda jadi lebih pengertian dan sabar dalam menghadapi perilakunya
  • tetap bersabar dan berdoa untuk anak tersebut. Ucapkan nama anak tersebut dalam doa ketika anda selesai beribadah, maka saat menghadapi ulahnya saya yakin guru akan dikaruniai kesabaran.
  • Beri ia kepercayaan. Mulai dari yang kecil, biarkan ia membawakan barang-barang anda ke ruang guru sampai jadikan ia pemimpin dalam suatu kesempatan di kelas.
  • Tangkap basah saat ia berbuat baik, puji ia saat itu juga, atau dengan tulisan dengan secarik kertas.
  • Saat menegur katakan “minggu ini kamu sudah banyak kemajuan, kenapa sekarang kok berulah yang negatif lagi?’
  • Katakan “saya bangga kamu bisa berubah’ bukan “saya senang kamu bisa berubah’. Jika anda katakan senang maka ia akan berubah demi menyenangkan anda sebagai gurunya. Sementara perasaan bangga dari guru murni terjadi karena guru bangga akan sikap yang muridnya perbuat.
  • Katakan “saya percaya kamu pasti bisa memilih hal yang paling baik untuk diri mu sendiri dan bisa berubah’.
Menghentikan sikap anak yang negatif hanya bisa dimulai dengan strategi dengan menggunakan pendekatan hati.
Jika setahun bersama anda ia belum juga berubah percayalah di tahun berikutnya ia akan berubah, jika belum berubah juga percayalah bahwa ia akan ingat ada satu guru yaitu anda yang selalu percaya padanya.


Menghadapi anak usia dini tak mudah

LIFESTYLE

"Menghadapi Anak Usia Dini Tidaklah Mudah"

Untuk lebih mendekatkan antara guru, siswa dan orang tua murid diperlukan komunikasi yang baik, terutama terhadap perilaku anak yang masih belum bisa mandiri.

Rabu, 5 September 2012 07:00Abuzakir Ahmad|

Jakarta, PelitaOnline
ANAK adalah salah satu harta titipan dari Tuhan kepada makhluknya untuk dididik agar menjadi anak yang berakhlak mulia, kreatif dan berprestasi.
Ketika anak masih berusia dini, merupakan waktu yang tepat untuk mendidik dan membentuk karakternya, karena dalam masa itu mereka masih belum mengetahui mana yang baik dan buruk.
Menurut Kepala Sekolah di Yayasan Ash-Shalihin Walang Baru, Koja, Jakarta  Utara, Nursia, menghadapi anak anak usia dini tidaklah mudah, butuh kesabaran dan juga tak lepas dari peran pembimbingnya itu sendiri.
Untuk lebih mendekatkan antara guru, siswa dan orang tua murid diperlukan komunikasi yang baik, terutama terhadap perilaku anak yang masih belum bisa mandiri.
“Mereka yang masih belum bisa mandiri atau harus masih ditemani orang tuanya itu karena mereka baru menyesuaikan diri dengan lingkungan yang ada,” ujarnya, Rabu (5/9).
Dalam melakukan pembinaan terhadap anak usia dini, jika mereka menangis atau memberontak, menurut Nur, sebaiknya diarahkan ke permainan yang mereka inginkan. Orang tua atau guru harus lebih proaktif untuk mengarahkan anak ke permainan yang membuatnya nyaman dan senang.
“Maka dari itu anak-anak ini pendidikannya difokuskan pada dunia anak itu sendiri, di samping bermain mereka juga belajar.”
- See more at: http://lifestyle.pelitaonline.com/news/2012/09/05/menghadapi-anak-usia-dini-tidaklah-mudah#.Ub3eYtKViIU

Kesalahan dalam mendidik anak

Kesalahan Dalam Mendidik Anak

Written by Administrator
Parent Category: Frontpage
Category: Frontpage
Hits: 186

Faktor ketidaktahuan tentang cara mendidik boleh jadi melahirkan sebab terjadinya kesalahan dalam proses mendidik anak. Oleh karena itu agar hal tersebut dapat dihindari, adalah penting bagi para orangtua mengenal jenis-jenis kesalahan ini sehingga proses pendidikan anak dapat berjalan baik dan berhasil sukses. Berikut ini 7 contoh kesalahan orangtua dalam mendidik anak mereka;


1. Ucapan pendidik tidak sesuai dengan perbuatan

Ini adalah kesalahan besar karena anak belajar dari orangtua beberapa hal, akan tetapi ternyata mereka justru mendapatkan perkara yang bertolak belakang dari apa yang diajarkan itu pada diri orangtua mereka. Ini akan berpengaruh buruk terhadap perkembangan mental dan perilaku anak. Allah Ta'ala mencela perbuatan ini dengan firman-Nya, artinya, “Hai orang-orang yang beriman mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS.ash-Shaff: 2-3).

Bagaimana anak akan belajar kejujuran kalau ia mengetahui orangtuanya berdusta? Bagaimana anak akan belajar sifat amanah sementara ia melihat bapaknya menipu? Bagaimana anak akan belajar akhlak baik bila orang sekitarnya suka mengejek, berkata jelek dan berakhlak buruk?

2.  Kedua orangtua tidak bersikap sama dalam menyikapi perbuatan anak

Kadangkala seorang anak melakukan perbuatan tertentu di hadapan kedua orangtua. Tetapi akibatnya sang ibu memuji dan mendorong sedang sang bapak memperingatkan dan mengancam. Anak akhirnya menjadi bingung mana yang benar dan mana yang salah di antara keduanya. Dengan pengertiannya yang masih terbatas, ia belum mampu membedakan mana yang benar dan yang salah sehingga hal itu akan mengakibatkan anak menjadi bimbang dan segala urusan tidak jelas baginya.

Sementara, kalau kedua orangtua mempunyai cara dan sikap yang sama atau tidak menunjukkan perbedaan ini, niscaya tidak terjadi kerancuan tersebut.

3. Membiarkan anak jadi korban televisi

Media massa mempunyai pengaruh yang besar sekali dalam perilaku dan perbuatan anak. Televisi adalah media berbahaya bagi proses pendidikan anak. Hampir tidak ada rumah yang tidak mempunyai televisi. Padahal pengaruhnya demikian luas terhadap anak maupun orang dewasa, terhadap orang-orang berpengetahuan maupun yang terbatas pengetahuannya. Plomery, seorang peneliti mengatakan, “Anak pada umumnya, dan kebanyakan orang dewasa, cenderung menerima tanpa mempertanyakan segala informasi yang tampil di film-film dan kelihatan realistis. Mereka dapat mengingat materinya dengan cara yang lebih baik. Maka akal pikiran mereka menelan begitu saja nilai-nilai yang rendah itu.”

Banyak orangtua yang tidak menaruh perhatian bahwa anak mereka kecanduan menonton televisi. Padahal ini sangat berpengaruh terhadap akhlak dan fithrah mereka, sampai apa yang dinamakan dengan acara anak-anak pun penuh dengan pemikiran-pemikiran keji yang diperoleh anak melalui acara yang ditayangkan. Banyak film kartun yang berisi kisah cinta dan roman sampai di antara anjing atau binatang lainnya. Tidakkah Anda melihat bagaimana seekor kucing betina dalam acara TV ditampilkan sangat anggun, berdandan dengan bulu mata panjang dan mata yang bercelak indah, serta buah dada yang montok, berlenggak lenggok untuk menggaet hati sang kucing jantan. Tayangan ini semua menyerbu dunia anak dan menodai fithrah yang suci dengan dalih acara anak-anak.

Oleh karena itu anak-anak kita harus dilindungi dari perangkat yang merusak ini. Hal ini, tak diragukan lagi, bukan sesuatu yang mudah tetapi juga tidak mustahil, jika kita ingin menjaga akhlak putra-putri kita. Semoga Allah Ta'ala melimpahkan pertolongan-Nya kepada kita.

4. Menyerahkan tanggung jawab pendidikan anak kepada pembantu atau pengasuh

Kesalahan amat serius dan banyak terjadi di masyarakat adalah gejala kesibukan seorang ibu di luar rumah dan sibuk dengan aneka urusan lain sehingga peran utama mendidik anak dan merawat rumah terabaikan. Sibuk dengan karir, bisnis, kunjungan, pertemuan atau hanya bermalas-malasan dan enggan menangani langsung urusan anak sehingga dengan entengnya urusan anak, ia serahkan kepada pembantu atau pengasuh.

Padahal bimbingan dan kasih sayang seorang ibu dibutuhkan untuk mengiringi tahap pertumbuhan dan perkembangan kejiwaan anak menuju kedewasaan. Ini semua jelas tidak bisa tergantikan dengan peran pembantu atau pengasuh. Anakpun tumbuh berkembang tanpa kasih sayang dan bimbingan. Kehilangan dua hal ini bisa mempengaruhi kejiwaan seorang anak bahkan acap kali terbawa sampai dewasa dan mempengaruhi kepribadian dan perilakunya.

5. Berlebihan dalam memberi hukuman dan balasan

Tidak ada yang mengingkari bahwa pemberian hukuman adalah termasuk salah satu sarana yang bisa diterapkan untuk proses pendidikan. Bahkan pemberian hukuman juga disyariatkan di dalam agama ini. Karenanya sesekali mungkin diperlukan orangtua untuk diterapkan kepada anak-anak mereka.

Akan tetapi pemberian hukuman ini tidak bisa dipraktikkan semau-maunya tanpa mempertimbangkan kondisi psikologis dan fisik si anak. Berlebihan dalam memberikan hukuman bisa menjadi bumerang bagi si anak dan orangtua. Hasilnya malah jauh dari apa yang sedari awal diharap-harapkan. Alih-alih menjadi baik malah berubah menjadi buruk.

Di antara pemberian hukuman yang diperbolehkan dalam Islam adalah dengan pukulan, namun pukulan yang tidak menyakitkan. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallama bersabda,

مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِينَ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِى الْمَضَاجِعِ

“Perintahkan anak-anak kalian untuk shalat saat berumur tujuh tahun dan pukullah mereka (jika tidak mau shalat) saat berumur sepuluh tahun, pisahkanlah mereka dalam tempat tidurnya.” (HR. Abu Dawud, no. 495).

Ada kaidah yang harus diperhatikan orangtua di dalam memukul, yaitu:
•    Jangan jadikan pukulan sebagai hukuman pertama sebelum menghukum dengan cara lain yang lebih ringan.
•    Jangan memukul anak dalam keadaan marah, dikhawatirkan akan membahayakan anak.
•    Jangan memukul daerah yang berbahaya seperti, wajah, kepala dan dada.
•    Jangan memukul pukulan yang keras dan menyakitkan, tidak lebih dari tiga kali pukulan kecuali karena darurat dan itupun tidak boleh lebih dari sepuluh kali pukulan.
•    Jangan memukul anak sebelum berumur 10 tahun.
•    Orangtua harus memukul sendiri anak yang salah, jangan mewakilkan pukulan kepada anak yang lain yang bisa menyebabkan kebencian dan hasad.

6. Berusaha mengekang anak secara berlebihan

Yaitu tidak diberi kesempatan bermain bercanda dan bergerak. Ini bertentangan dengan tabiat anak dan bisa membahayakan kesehatannya, karena permainan penting bagi pertumbuhan anak. “Permainan di tempat yang bebas dan luas termasuk faktor terpenting yang membantu pertumbuhan jasmani anak dan menjaga kesehatannya.”

7. Mendidik anak tidak percaya diri dan merendahkan pribadinya

Sering ditemukan seorang anak dicemooh atau diperlakukan hina oleh orangtuanya bahkan tak hanya di dalam rumah tetapi juga di hadapan umum. Ini akan membuat anak hidup dengan rasa rendah diri, rasa bersalah, penakut dan selalu tidak percaya diri bahkan sifat dan kepribadian ini akan berbekas hingga dewasa.

Karena itu, seyogianya kita mempersiapkan anak-anak kita untuk dapat melaksanakan tugas-tugas agama dan dunia. Dan hal ini tidak tercapai kecuali dengan mendidik mereka memiliki rasa percaya dan harga diri namun tidak sombong dan takabur; serta senantiasa mengupayakan agar anak dikenalkan kepada hal-hal yang bernilai tinggi dan dijauhkan dari hal-hal yang bernilai rendah.

Demikianlah 7 contoh kesalahan orangtua dalam mendidik anak. Masih banyak bentuk kesalahan yang lainnya, namun ke-7 contoh di atas kami rasa sudah cukup bermanfaat bila kita jadikan rambu-rambu petunjuk dalam proses pendidikan anak. Semoga Allah Ta'ala melindungi kita -para orangtua- dari terjatuh ke dalam kesalahan-kesalahan tersebut dan kesalahan yang lainnya. Aamien. Wallahu a’lam. (Redaksi)

[Sumber: Diringkas dari al-Wajiz Fi at-Tarbiyyah, karya: Yusuf Muhammad al-Hasan, penerbit: Dar al-Dzakha-ir, Damam, 1416 H, edisi Indonesia: Pendidikan Anak Dalam Islam, penerbit: Darul Haq, dengan sedikit gubahan]

Kesalahan Dalam Mendidik Anak

Written by Administrator
Parent Category: Frontpage
Category: Frontpage
Hits: 186

Faktor ketidaktahuan tentang cara mendidik boleh jadi melahirkan sebab terjadinya kesalahan dalam proses mendidik anak. Oleh karena itu agar hal tersebut dapat dihindari, adalah penting bagi para orangtua mengenal jenis-jenis kesalahan ini sehingga proses pendidikan anak dapat berjalan baik dan berhasil sukses. Berikut ini 7 contoh kesalahan orangtua dalam mendidik anak mereka;


1. Ucapan pendidik tidak sesuai dengan perbuatan

Ini adalah kesalahan besar karena anak belajar dari orangtua beberapa hal, akan tetapi ternyata mereka justru mendapatkan perkara yang bertolak belakang dari apa yang diajarkan itu pada diri orangtua mereka. Ini akan berpengaruh buruk terhadap perkembangan mental dan perilaku anak. Allah Ta'ala mencela perbuatan ini dengan firman-Nya, artinya, “Hai orang-orang yang beriman mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS.ash-Shaff: 2-3).

Bagaimana anak akan belajar kejujuran kalau ia mengetahui orangtuanya berdusta? Bagaimana anak akan belajar sifat amanah sementara ia melihat bapaknya menipu? Bagaimana anak akan belajar akhlak baik bila orang sekitarnya suka mengejek, berkata jelek dan berakhlak buruk?

2.  Kedua orangtua tidak bersikap sama dalam menyikapi perbuatan anak

Kadangkala seorang anak melakukan perbuatan tertentu di hadapan kedua orangtua. Tetapi akibatnya sang ibu memuji dan mendorong sedang sang bapak memperingatkan dan mengancam. Anak akhirnya menjadi bingung mana yang benar dan mana yang salah di antara keduanya. Dengan pengertiannya yang masih terbatas, ia belum mampu membedakan mana yang benar dan yang salah sehingga hal itu akan mengakibatkan anak menjadi bimbang dan segala urusan tidak jelas baginya.

Sementara, kalau kedua orangtua mempunyai cara dan sikap yang sama atau tidak menunjukkan perbedaan ini, niscaya tidak terjadi kerancuan tersebut.

3. Membiarkan anak jadi korban televisi

Media massa mempunyai pengaruh yang besar sekali dalam perilaku dan perbuatan anak. Televisi adalah media berbahaya bagi proses pendidikan anak. Hampir tidak ada rumah yang tidak mempunyai televisi. Padahal pengaruhnya demikian luas terhadap anak maupun orang dewasa, terhadap orang-orang berpengetahuan maupun yang terbatas pengetahuannya. Plomery, seorang peneliti mengatakan, “Anak pada umumnya, dan kebanyakan orang dewasa, cenderung menerima tanpa mempertanyakan segala informasi yang tampil di film-film dan kelihatan realistis. Mereka dapat mengingat materinya dengan cara yang lebih baik. Maka akal pikiran mereka menelan begitu saja nilai-nilai yang rendah itu.”

Banyak orangtua yang tidak menaruh perhatian bahwa anak mereka kecanduan menonton televisi. Padahal ini sangat berpengaruh terhadap akhlak dan fithrah mereka, sampai apa yang dinamakan dengan acara anak-anak pun penuh dengan pemikiran-pemikiran keji yang diperoleh anak melalui acara yang ditayangkan. Banyak film kartun yang berisi kisah cinta dan roman sampai di antara anjing atau binatang lainnya. Tidakkah Anda melihat bagaimana seekor kucing betina dalam acara TV ditampilkan sangat anggun, berdandan dengan bulu mata panjang dan mata yang bercelak indah, serta buah dada yang montok, berlenggak lenggok untuk menggaet hati sang kucing jantan. Tayangan ini semua menyerbu dunia anak dan menodai fithrah yang suci dengan dalih acara anak-anak.

Oleh karena itu anak-anak kita harus dilindungi dari perangkat yang merusak ini. Hal ini, tak diragukan lagi, bukan sesuatu yang mudah tetapi juga tidak mustahil, jika kita ingin menjaga akhlak putra-putri kita. Semoga Allah Ta'ala melimpahkan pertolongan-Nya kepada kita.

4. Menyerahkan tanggung jawab pendidikan anak kepada pembantu atau pengasuh

Kesalahan amat serius dan banyak terjadi di masyarakat adalah gejala kesibukan seorang ibu di luar rumah dan sibuk dengan aneka urusan lain sehingga peran utama mendidik anak dan merawat rumah terabaikan. Sibuk dengan karir, bisnis, kunjungan, pertemuan atau hanya bermalas-malasan dan enggan menangani langsung urusan anak sehingga dengan entengnya urusan anak, ia serahkan kepada pembantu atau pengasuh.

Padahal bimbingan dan kasih sayang seorang ibu dibutuhkan untuk mengiringi tahap pertumbuhan dan perkembangan kejiwaan anak menuju kedewasaan. Ini semua jelas tidak bisa tergantikan dengan peran pembantu atau pengasuh. Anakpun tumbuh berkembang tanpa kasih sayang dan bimbingan. Kehilangan dua hal ini bisa mempengaruhi kejiwaan seorang anak bahkan acap kali terbawa sampai dewasa dan mempengaruhi kepribadian dan perilakunya.

5. Berlebihan dalam memberi hukuman dan balasan

Tidak ada yang mengingkari bahwa pemberian hukuman adalah termasuk salah satu sarana yang bisa diterapkan untuk proses pendidikan. Bahkan pemberian hukuman juga disyariatkan di dalam agama ini. Karenanya sesekali mungkin diperlukan orangtua untuk diterapkan kepada anak-anak mereka.

Akan tetapi pemberian hukuman ini tidak bisa dipraktikkan semau-maunya tanpa mempertimbangkan kondisi psikologis dan fisik si anak. Berlebihan dalam memberikan hukuman bisa menjadi bumerang bagi si anak dan orangtua. Hasilnya malah jauh dari apa yang sedari awal diharap-harapkan. Alih-alih menjadi baik malah berubah menjadi buruk.

Di antara pemberian hukuman yang diperbolehkan dalam Islam adalah dengan pukulan, namun pukulan yang tidak menyakitkan. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallama bersabda,

مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِينَ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِى الْمَضَاجِعِ

“Perintahkan anak-anak kalian untuk shalat saat berumur tujuh tahun dan pukullah mereka (jika tidak mau shalat) saat berumur sepuluh tahun, pisahkanlah mereka dalam tempat tidurnya.” (HR. Abu Dawud, no. 495).

Ada kaidah yang harus diperhatikan orangtua di dalam memukul, yaitu:
•    Jangan jadikan pukulan sebagai hukuman pertama sebelum menghukum dengan cara lain yang lebih ringan.
•    Jangan memukul anak dalam keadaan marah, dikhawatirkan akan membahayakan anak.
•    Jangan memukul daerah yang berbahaya seperti, wajah, kepala dan dada.
•    Jangan memukul pukulan yang keras dan menyakitkan, tidak lebih dari tiga kali pukulan kecuali karena darurat dan itupun tidak boleh lebih dari sepuluh kali pukulan.
•    Jangan memukul anak sebelum berumur 10 tahun.
•    Orangtua harus memukul sendiri anak yang salah, jangan mewakilkan pukulan kepada anak yang lain yang bisa menyebabkan kebencian dan hasad.

6. Berusaha mengekang anak secara berlebihan

Yaitu tidak diberi kesempatan bermain bercanda dan bergerak. Ini bertentangan dengan tabiat anak dan bisa membahayakan kesehatannya, karena permainan penting bagi pertumbuhan anak. “Permainan di tempat yang bebas dan luas termasuk faktor terpenting yang membantu pertumbuhan jasmani anak dan menjaga kesehatannya.”

7. Mendidik anak tidak percaya diri dan merendahkan pribadinya

Sering ditemukan seorang anak dicemooh atau diperlakukan hina oleh orangtuanya bahkan tak hanya di dalam rumah tetapi juga di hadapan umum. Ini akan membuat anak hidup dengan rasa rendah diri, rasa bersalah, penakut dan selalu tidak percaya diri bahkan sifat dan kepribadian ini akan berbekas hingga dewasa.

Karena itu, seyogianya kita mempersiapkan anak-anak kita untuk dapat melaksanakan tugas-tugas agama dan dunia. Dan hal ini tidak tercapai kecuali dengan mendidik mereka memiliki rasa percaya dan harga diri namun tidak sombong dan takabur; serta senantiasa mengupayakan agar anak dikenalkan kepada hal-hal yang bernilai tinggi dan dijauhkan dari hal-hal yang bernilai rendah.

Demikianlah 7 contoh kesalahan orangtua dalam mendidik anak. Masih banyak bentuk kesalahan yang lainnya, namun ke-7 contoh di atas kami rasa sudah cukup bermanfaat bila kita jadikan rambu-rambu petunjuk dalam proses pendidikan anak. Semoga Allah Ta'ala melindungi kita -para orangtua- dari terjatuh ke dalam kesalahan-kesalahan tersebut dan kesalahan yang lainnya. Aamien. Wallahu a’lam. (Redaksi)

[Sumber: Diringkas dari al-Wajiz Fi at-Tarbiyyah, karya: Yusuf Muhammad al-Hasan, penerbit: Dar al-Dzakha-ir, Damam, 1416 H, edisi Indonesia: Pendidikan Anak Dalam Islam, penerbit: Darul Haq, dengan sedikit gubahan]

cara mengatasi anak nakal

Cara Mengatasi Anak Nakal Bagian I

Written by Administrator
Parent Category: News
Category: Serba-Serbi
Hits: 672

Oleh : Ummu Hudzayfah

Setiap orangtua pasti berharap agar anak-anaknya dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Betapa bahagianya apabila anaknya ketika masih bayi tidak rewel, mudah beradaptasi ketika diajak berkunjung kerumah saudara atau kenalan, apabila di sapa keluarga tersenyum atau bahkan langsung tertawa, tidak susah makan, atau tidak buang air besar dan kecil (termasuk mengompol) sembarang waktu dan tempat. Alangkah bahagia orangtua apabila anaknya yang sudah menginjak usia sekolah dapat bersekolah dengan baik, bisa bangun pagi-pagi, tidak bermasalah dengan teman-temannya, rajin belajar dan tidak suka berbohong, sopan, suka menolong, patuh pada orangtua dan guru, rajin beribadah.
Namun apabila anak tumbuh dan berkembang tidak sesuai harapan, tidak jarang orangtua mulai kebingungan bagaimana cara mengatasinya. Ketika sekali dua kali orangtua menasehati anaknya tetapi anaknya tetap tidak berubah, tak sedikit pula orangtua yang memarahi anaknya memberikan hukuman bahkan memukul anaknya, ketika keadaan sudah begini, tidak banyak orangtua yang bisa berpikir dengan tenang untuk mencari jawab mengapa anaknya bermasalah. Anak yang bermasalah disini adalah anak yang mempunyai perilaku yang tidak sesuai dengan keinginan atau harapan orangtua yang berkesesuaian dengan nilai-nilai yang dianut oleh orangtua, keluarga atau bahkan lingkungan. Didalam mengatasi anak yang bermasalah tidak dibenarkan memarahi, mengurung bahkan memukul anak.
Ada tiga prasyarat yang harus dipenuhi setiap orangtua agar dapat mengatasi anaknya yang sedang bermasalah secara efektif, yakni :
1.Bersikap Tenang
2.Berbuat Sepenuh Kasih Sayang
3.Memahami anak sebagai pribadi yang berkembang   
Insya Alloh jika ketiga prasyarat ini dilakukan oleh para orangtua, anak bisa tumbuh sesuai dengan harapan dan keinginan orangtua.

tips anak yang nakal supaya baik

Mengatasi Masalah Anak-Anak Yang Nakal, Degil Dan Suka Melawan Cakap Ibu Bapa

oleh Tuan Guru Dato’ Dr. Haron Din (Catatan) pada 2 Maret 2010 pukul 1:55
Oleh: Ibnuumar Asseluluni



Secara fitrahnya semua ibu bapa mahukan anak-anak yang menghormati ibu bapa, mentaati hukum agama, sentiasa menjauhi maksiat serta tidak terjebak dengan gejala sosial.

Pengalaman penulis di Darussyifa’ sering bertemu dengan ibu bapa yang mengadu tentang anak-anak mereka yang terjebak dengan gejala sosial seperti anak-anak yang lari dari rumah, bergaul dengan remaja yang rosak akhlak, berzina, menagih dadah, melawan ibu-bapa, kasar serta biadab dengan ibu bapa dan seumpamanya.

Ibu bapa yang datang ke Darussyifa’ ini meminta perawat mengikhtiarkan sesuatu supaya anak-anak mereka boleh dipulihkan. Di antara yang biasa dilakukan oleh perawat ialah membaca doa-doa tertentu pada air seperti Surah al-Fatihah, Doa Pelembut Hati (Surah Taha ayat 1 hingga 5), Selawat Syifa’, Selawat Tafrijiyah, Doa Menghindar Maksiat (Surah al-Mu’min ayat 3) dan beberapa doa-doa yang lain. Air yang telah dibacakan dengan doa ini diberi minum kepada anak-anak yang bermasalah ini juga dibuat bilasan mandi.

Salah satu ikhtiar yang sangat mujarab bagi mengatasi anak-anak yang suka melawan ibu-bapa ialah dengan memberi minum anak-anak ini dengan air tadahan lebihan wuduk ibu-bapa. Caranya seperti berikut;

1. Ibu dan bapa terlebih dahulu membersihkan semua anggota wuduk dengan sabun. Anggota-anggota wuduk ini termasuk yang rukun dan sunat iaitu mulut, hidung, muka, kedua tangan, kepala, kedua-dua telinga dan kaki hingga buku lali.

2. Setelah dibersihkan anggota-anggota wuduk tersebut, gunakan air minuman atau air mineral untuk mengambil wuduk.

3. Cara yang mudah, duduk di atas kerusi dan letakkan baldi di bahagian antara kedua belah kaki. Biar isteri tolong menuangkan air untuk mengambil wuduk.

4. Membasuh semua anggota wuduk tiga kali. Mulakan dengan membaca bismillah. Basuh kedua belah tapak tangan diikuti dengan berkumur-kumur, membersihkan hidung. Pastikan air yang telah digunakan untuk membasuh tapak tangan dan berkumur-kumur masuk ke dalam baldi.

5. Berniat mengambil wuduk diikuti membasuh muka, seterusnya membasuh kedua tangan hingga ke siku, menyapu sedikit air di bahagian kepala, membasuh telinga dan akhir sekali membasuh kedua belah kaki hingga ke buku lali.

6. Setelah suami selesai, isteri pula mengambil wuduk dengan cara yang sama manakala suami pula yang membantu menuangkan air.

7. Setelah selesai, air lebihan wuduk yang terkumpul di dalam baldi tersebut dicampurkan dengan air biasa.

8. Beri minum air tersebut kepada Mandikan anak-anak yang bermasalah dengan air tersebut. Insya’Allah dia akan menjadi anak yang patuh kepada kedua ibu-bapanya.


Pencegahan Awal

Daripada pengamatan penulis serta kajian yang telah dibuat, lebih 90% ibu-bapa yang datang mengadu anak mereka bermasalah, apabila diperdengarkan doa berikut, mereka kata tidak pernah pun mendengar doa ini. Doa tersebut adalah seperti berikut;



Terjemahannya: Ya Allah, jauhkan syaitan daripada kami dan jauhkan syaitan daripada anak yang akan Engkau anugerahkan kepada kami.

pembentukan karakter anak

Bagaimana Proses Pembentukan Karakter Anak?


Bagaimana Proses Pembentukan Karakter Anak
Dalam perkembangannya anak pasti akan mengalami yang dinamakan pembentukan karakter. Kira-kira anda sudah faham belum tentang Karakter anak?. Kalau belum anda bisa review artikel sebelumnya tentang karakteristik anak usia dini. Sebagai orang tua ataupun sebagai seorang pendidik di pendidikan anak usia dini atau biasa disingkat dengan paud, begitu juga pendidik di jenjang taman kanak-kanak ataupun sekolah dasar akan cenderung menemui yang dinamakan proses pembentukan karakter anak. Untuk lebih memahami tentang proses pembentukan karakter anak, anda bisa membaca gambaran dan ilustrasi dibawah ini.


Suatu hari seorang anak laki-laki sedang memperhatikan sebuah kepompong, eh ternyata di dalamnya ada kupu-kupu yang sedang berjuang untuk melepaskan diri dari dalam kepompong. Kelihatannya begitu sulitnya, kemudian si anak laki-laki tersebut merasa kasihan pada kupu-kupu itu dan berpikir cara untuk membantu si kupu-kupu agar bisa keluar dengan mudah. Akhirnya si anak laki-laki tadi menemukan ide dan segera mengambil gunting dan membantu memotong kepompong agar kupu-kupu bisa segera keluar dari sana. Alangkah senang dan leganya si anak laki laki tersebut.Tetapi apa yang terjadi? Si kupu-kupu memang bisa keluar dari sana. Tetapi kupu-kupu tersebut tidak dapat terbang, hanya dapat merayap. Apa sebabnya?

Ternyata bagi seekor kupu-kupu yang sedang berjuang dari kepompongnya tersebut, yang mana pada saat dia mengerahkan seluruh tenaganya, ada suatu cairan didalam tubuhnya yang mengalir dengan kuat ke seluruh tubuhnya yang membuat sayapnya bisa mengembang sehingga ia dapat terbang, tetapi karena tidak ada lagi perjuangan tersebut maka sayapnya tidak dapat mengembang sehingga jadilah ia seekor kupu-kupu yang hanya dapat merayap.

Itulah potret singkat tentang pembentukan karakter anak, akan terasa jelas dengan memahami contoh kupu-kupu tersebut. Seringkali orangtua dan guru, lupa akan hal ini. Bisa saja mereka tidak mau repot, atau kasihan pada anak. Kadangkala Good Intention atau niat baik kita belum tentu menghasilkan sesuatu yang baik. Sama seperti pada saat kita mengajar anak kita. Kadangkala kita sering membantu mereka karena kasihan atau rasa sayang, tapi sebenarnya malah membuat mereka tidak mandiri. Membuat potensi dalam dirinya tidak berkembang. Memandulkan kreativitasnya, karena kita tidak tega melihat mereka mengalami kesulitan, yang sebenarnya jika mereka berhasil melewatinya justru menjadi kuat dan berkarakter.

Ada satu anekdot yang sering saya sampaikan pada rekan saya, ataupun peserta seminar. Enak mana makan mie instant dengan mie goreng seafood? Umumnya mereka yang suka mie pasti tahu jika mie goreng seafood jauh lebih enak dari mie goreng instant yang hanya bisa dimasak tidak kurang dari 3 menit. Apa yang membedakan enak atau tidaknya dari masakan mie tersebut? Prosesnya!

Sama halnya bagi pembentukan karakter seorang anak, memang butuh waktu dan komitmen dari orangtua dan sekolah atau guru (jika memprioritaskan hal ini) untuk mendidik anak menjadi pribadi yang berkarakter. Butuh upaya, waktu dan cinta dari lingkungan yang merupakan tempat dia bertumbuh, cinta disini jangan disalah artikan memanjakan. Jika kita taat dengan proses ini maka dampaknya bukan ke anak kita, kepada kitapun berdampak positif, paling tidak karakter sabar, toleransi, mampu memahami masalah dari sudut pandang yang berbeda, disiplin dan memiliki integritas (ucapan dan tindakan sama) terpancar di diri kita sebagai orangtua ataupun guru. Hebatnya, proses ini mengerjakan pekerjaan baik bagi orangtua, guru dan anak jika kita komitmen pada proses pembentukan karakter.

Kembali ke pembentukan karakter anak, ingat segala sesuatu butuh proses. Mau jadi jelek pun butuh proses. Anak yang nakal itu juga anak yang disiplin lho. Tidak percaya? Dia disiplin untuk bersikap nakal. Dia tidak mau mandi tepat waktu, bangun pagi selalu telat, selalu konsisten untuk tidak mengerjakan tugas dan wajib tidak menggunakan seragam lengkap.

Ada satu kunci untuk menanamkan kebiasaan, ada hukumnya dan hukum itu bernama hukum 21 hari, dalam pembentukan karakter erat kaitannya dengan menciptakan kebiasaan yang baru yang positif. Dan kebiasaan akan tertanam kuat dalam pikiran manusia setelah diulang setiap hari selama 21 hari. Misalnya Anda biasakan anak sehabis bangun tidur untuk membersihkan tempat tidurnya, mungkin Anda akan selalu mengingatkan dan mengawasi dengan kasih sayang (wajib, dengan kasih sayang) selama 21 hari. Tetapi setelah lewat 21 hari maka kebiasaan itu akan terbentuk dengan otomatis. Nah, kini kebiasaan positif apa yang hendak anda tanamkan kepada anak, pasangan dan diri Anda? Anda sudah tahu caranya dan tinggal melakukan saja. Sukses dalam pembentukan karakter anak anda yang terus diperbarui.